BERITA

ATASI SERANGAN GRAYAK DENGAN CARA TEPAT OLEH : TIM PENGELOLA INFORMASI DAN DOKUMENTASI DINAS PERTANIAN KABUPATEN LABUHANBATU SELATAN

Kamis, 30 Juli 2020

Distanikan Dalam pelaksanaan budidaya tanaman jagung, serangan hama ulat grayak atau biasa disebut oleh petani sebagai ulat tentara merupakan hal yang biasa terjadi bahkan menyerang tanaman yang masih muda. Hama ulat grayak menyerang tanaman jagung mulai dari umur 7 hari setelah tanam hingga usia panen. Fase yang paling merusak dari hama jagung ini yaitu fase larva atau ulat. Kumpulan larva hama ini seringkali menyebabkan daun tanaman hanya tersisa tulang daun dan batang tanaman saja. Apabila kumpulan larva hama jagung ini mencapai kepadatan rata-rata populasi 0.2 – 0.8 larva per tanaman dapat menyebabkan pengurangan hasil produksi sebanyak 5 – 20%.

Pengurangan hasil produksi akan menyebabkan kerugian pada petani. Seperti yang dialami oleh salah satu petani jagung di Desa Aek Raso, Kecamatan Torgamba. Kebun jagung petani tersebut seluas 2 hektar terserang hama ulat grayak. Menurut pengamatan Pak Miswanto selaku Penyuluh Pertanian Lapangan Desa Aek Raso, serangan ulat grayak ini menyebabkan daun rusak terkoyak, berlubang tidak beraturan, terdapat kotoran seperti serbuk gergaji dan pada serangan berat daun menjadi gundul. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengendalian sesegera mungkin, agar hama ulat grayak tidak sampai menyerang bagian tongkol tanaman.

Faktanya, serangan ulat grayak dapat dicegah diawal pertanaman dengan cara:

§ Penggunaan benih dan varietas yang memiliki daya kecambah yang baik dan bebas dari penyakit.

§ Lakukan waktu penanaman yang tepat waktu dan hindari waktu penanaman yang tidak seragam pada satu lahan.

§ Kondisi tanah yang baik dengan penggunaan pupuk anorganik secara seimbang untuk mengurangi intensitas serangan hama ulat grayak.

§ Lakukan sistem tumpang sari tanaman jagung dengan tanaman lain yang tidak disukai oleh hama ini.

§ Lakukan pengamatan setidaknya seminggu sekali untuk mengamati, mempelajari, dan mengambil keputusan yang tepat jika ditemukan gejala serangan hama ini.

Sedangkan untuk tindakan pengendalian dapat dilakukan dengan beberapa cara:

1.  Secara mekanis, dapat dilakukan adalah dengan cara mencari dan membunuh larva dan telur hama ini secara mekanis, yakni dengan dihancurkan dengan tangan.

2.  Secara biologis, dengan penggunaan musuh alami yang berperan sebagai agen pengendali hayati untuk mengurangi   populasi   hama   ulat   grayak.   Beberapa   contoh   musuh   alami    dari    hama    ini    yaitu jenis parasitoid Trichogramma spp. dan jenis predator cecopet, kumbang kepik, dan semut.

3.  Secara kimiawi, dapat dilakukan dengan cara menyemprotkan insektisida yang efektif seperti Curacron 500 EC atau Decis 2,5 EC sesuai dosis yang dianjurkan.

 

 

Sumber:

Rukmana, R. 2007. Jagung: Budidaya, Pasca Panen, dan Keanekaragaman Pangan. Semarang: Aneka Ilmu. https://bulelengkab.go.id/detail/artikel/penanggulangan-dan-pengendalian-ulat-grayak-hama-baru-pada- pertanaman-jagung-71

http://cybex.pertanian.go.id/mobile/artikel/83039/PENGENDALIAN-HAMA-ULAT-GRAYAK-PADA-TANAMAN- JAGUNG/